Daisypath Wedding tickers

Saturday, 14 July 2012

uncommitted / commited relationship

Jumat malam berakhir dengan ngobrol – ngobrol ringan di Puri Indah, dan dari ngobrol – ngobrol ringan itu tiba – tiba topik pembicaraan berbelok arah  ke topik yang menurut saya cukup berat  dan tidak akan pernah habis dibahas yang disebut : love relationship!

Well, semua itu berawal dari cerita teman kalau dia sedang dalam proses membeli his very own home. And for that thing I feel so glad for him, but after he said this, ”Iya gue steng - steng (separo – separo) bayarnya ama cewe gue.” Oke, kalau begitu ini bukan sekedar membeli rumah saja, pikir saya. Ini bukan sekedar bayar DP rumah yang nominalnya di luar akal sehat saya, karena saya mungkin lebih suka langsung menghabiskan semua uang yang saya punya daripada membiarkan dia di bank dan menjadi bosan di bank (serius! Uang juga punya hak untuk jalan – jalan dari mall ke mall! *semoga ibu ga baca ini :p*

Oh jangan menjudge saya orang yang tidak punya mimpi, saya punya mimpi kok, menikah dengan pria yang sudah punya rumah hahaha *piss*

Kembali ke permasalahan inti, tentang membeli rumah dengan sistem ‘separo-separo’ bukan hal yang mudah saya cerna. Karena begitu membayangkan kalau saya melakukan hal seperti itu, maka langsung muncul segerombolan pernyataan yang dengan cara tidak sopan muncul di otak saya seperti …

“Kalo gagal di tengah jalan alias putus dan gak jadi nikah, gimana?”
”Apakah gue sanggup untuk putus dengan sangat menyakitkan dan ditambah kenyataan kalo gue gak bisa langsung menghapus no HP nya dari address book gue, atau hapus contact bb karena masih ada utang piutang yang harus diselesaikan (a.k.a ‘separo – separo’ stuff).”
”Emangnya  gue akan cukup waras untuk bertemu si mantan bukan untuk sekedar bertemu tapi untuk soal tagih menagih?”

Dan bagian terburuk …
“gimanaa kalo soal rumah-rumahan ini belum selesai sementara si mantan sudah punya gandengan baru? Sementara gue belum, dan si mantan dengan tingkat sadis luar biasa membawa gandengannya di depan gue?”

Well saya tidak sanggup dulu berkomitmen seperti itu … terlalu berat … terlalu was-was.
Lalu hal ini kepikiran di dalam otak saya, “Mungkin hal ‘separo-separo’ beli rumah ini untuk meng’ikat’ hubungan mereka juga,” kalau ibaratnya sih ‘mau nggak mau harus mau’. Kalau terjadi bad things dalam hubungan mereka, semua harus diclearin lagi harus dibuat jernih dan bening lagi karena sudah ada si urusan ‘separo-separo’ beli rumah. 


Berpikir tentang committed relationship dan uncommitted relationship yang saya jalani selama ini. Saya langsung menganggap teman saya adalah seorang jenius karena dia langsung menjadikan hubungannya adalah hubungan yang committed di saat yang tepat ! saat sudah lelah dengan uncommitted relationship.

Kalo di kerjaan saya, ibaratnya committed relationship itu sudah sampai ke tahap PPJB (Pengikatan Perjanjian Jual Beli) dan uncommitted relationship itu baru di tahap SP (Surat Pesanan) dengan catatan kalau batal membeli, booking fee bisa dikembalikan.  Dengan PPJB pembelian apartemen itu menjadi terikat secara hukum sebelum masuk ke tahap AJB (Akta Jual Beli) yang mana bisa saya samakan dengan pernikahan.

Merenung lagi … tapi kalaupun dari committed relationship sudah sampai ke pernikahan alias AJB tetap saja bisa gagal di tengah jalan? Nah kalau di jual beli apartemen namanya secondary yang mana untuk aplikasi ke umat manusia yang jadi barang second biasanya si perempuannya .
Committed or uncommitted relationship is just the same, still have a chance to be a secondary.
RIBET! 
 

0 comments:

Post a Comment