Jumat malam berakhir dengan ngobrol – ngobrol ringan di
Puri Indah, dan dari ngobrol – ngobrol ringan itu tiba – tiba topik pembicaraan
berbelok arah ke topik yang menurut saya cukup berat dan
tidak akan pernah habis dibahas yang disebut : love relationship!
Well, semua itu berawal dari cerita teman kalau dia sedang dalam proses membeli his very
own home. And for that thing I feel so glad for him, but after he said this,
”Iya gue steng - steng (separo – separo) bayarnya ama cewe gue.” Oke, kalau
begitu ini bukan sekedar membeli rumah saja, pikir saya. Ini bukan sekedar bayar
DP rumah yang nominalnya di luar akal sehat saya, karena saya mungkin lebih
suka langsung menghabiskan semua uang yang saya punya daripada membiarkan dia
di bank dan menjadi bosan di bank (serius! Uang juga punya hak untuk jalan –
jalan dari mall ke mall! *semoga ibu ga baca ini :p*
Oh jangan menjudge saya orang yang
tidak punya mimpi, saya punya mimpi kok, menikah dengan pria yang sudah punya
rumah hahaha *piss*
Kembali ke permasalahan inti,
tentang membeli rumah dengan sistem ‘separo-separo’ bukan hal yang mudah saya
cerna. Karena begitu membayangkan kalau saya melakukan hal seperti itu, maka
langsung muncul segerombolan pernyataan yang dengan cara tidak sopan muncul di
otak saya seperti …
“Kalo gagal di tengah jalan alias
putus dan gak jadi nikah, gimana?”
”Apakah gue sanggup untuk putus dengan sangat menyakitkan dan ditambah kenyataan kalo gue gak bisa langsung menghapus no HP nya dari address book gue, atau hapus contact bb karena masih ada utang piutang yang harus diselesaikan (a.k.a ‘separo – separo’ stuff).”
”Apakah gue sanggup untuk putus dengan sangat menyakitkan dan ditambah kenyataan kalo gue gak bisa langsung menghapus no HP nya dari address book gue, atau hapus contact bb karena masih ada utang piutang yang harus diselesaikan (a.k.a ‘separo – separo’ stuff).”
”Emangnya gue akan cukup waras untuk bertemu si mantan
bukan untuk sekedar bertemu tapi untuk soal tagih menagih?”
Dan bagian
terburuk …
“gimanaa kalo soal rumah-rumahan
ini belum selesai sementara si mantan sudah punya gandengan baru? Sementara gue
belum, dan si mantan dengan tingkat sadis luar biasa membawa gandengannya di
depan gue?”
Well saya tidak sanggup dulu
berkomitmen seperti itu … terlalu berat … terlalu was-was.
Lalu hal ini kepikiran di dalam
otak saya, “Mungkin hal ‘separo-separo’ beli rumah ini untuk meng’ikat’
hubungan mereka juga,” kalau ibaratnya sih ‘mau nggak mau harus mau’. Kalau
terjadi bad things dalam hubungan mereka, semua harus diclearin lagi harus
dibuat jernih dan bening lagi karena sudah ada si urusan ‘separo-separo’ beli
rumah.
Berpikir tentang committed
relationship dan uncommitted relationship yang saya jalani selama ini. Saya
langsung menganggap teman saya adalah seorang jenius karena dia langsung
menjadikan hubungannya adalah hubungan yang committed di saat yang tepat ! saat
sudah lelah dengan uncommitted relationship.
Kalo di kerjaan saya,
ibaratnya committed relationship itu sudah sampai ke tahap PPJB (Pengikatan Perjanjian
Jual Beli) dan uncommitted relationship itu baru di tahap SP (Surat Pesanan)
dengan catatan kalau batal membeli, booking fee bisa dikembalikan. Dengan PPJB pembelian apartemen itu menjadi
terikat secara hukum sebelum masuk ke tahap AJB (Akta Jual Beli) yang mana bisa
saya samakan dengan pernikahan.
Merenung lagi … tapi kalaupun dari
committed relationship sudah sampai ke pernikahan alias AJB tetap saja bisa
gagal di tengah jalan? Nah kalau di jual beli apartemen namanya secondary yang
mana untuk aplikasi ke umat manusia yang jadi barang second biasanya si
perempuannya .
Committed or uncommitted
relationship is just the same, still have a chance to be a secondary.
RIBET!
RIBET!

